• Tuesday, June 16th, 2009
Puisi ini adalah hasil lomba menulis puisi dengan beberapa rekan: Andhika Maesa Putra, Septri Lediana dan Yulia Nengsih. Puisi tersebut harus mengandung kata-kata: daun, gelas, rokok, lilin dan beranda. Seharusnya puisi ini sudah diupload dalam waktu 24 jam, namun karena ada halangan yang tak bisa saya sebutkan disini, saya baru bisa mengupload jam 21.30.
Maaf…

Pertemuan (?)
Di beranda, kenangan saling himpit menghimpit,
mengaburkan derit pintu,
Tingkap dan gorden-gorden lusuh
Kaukah disana,
duduk menjalin sendu bersama lilin-lilin yang mejelma abu?
Mungkin…
Sebab, pada halus tanganmu, kau pernah tuliskan dongeng
Tentang gerimis yang mengembun diatas daun
tentang gelas-gelas bertatakan sakit yang menahun
atau bahkan juga tentang pelarian-pelarian kecil
Dimana aku dan kau selau jadi pemain
Tak pernah bersua
Hentilah,
tidak ada janji pada api ketika rokok menjelma asap abu-abu
tidak ada cerita baru
Hanya ada lelah yang berbentang jarak panjang
Aku takkan memulainya lagi
Tak juga menunggumu
Patenggangan, Juni 2009
• Tuesday, June 16th, 2009

:Ihsan Yauma
Sepagi Idul Adha, kita mengetam kalimat-kalimat,
mendengar ketuk-ketuk papan tidur,
membaui masakan ibu,
membakar tembakau di kamar mandi (ah, kau selalu begitu),
sebelum akhirnya menuju kereta (sebelahnya kita menyimpan sepatu)
saat senja
kau mendayung sepeda tua,
aku duduk dibelakangnya
berencana menuju banda bakali
(yang akhirnya tak pernah kita temui),
menyambangi gadis tetangga
dan mendatangi surau mungil yang berjarak hanya lima kaki
“tidakkah kau rasa kini
betapa pahit sereguk ampas kopi?”
Az-zahra, Juni 2009
• Tuesday, June 16th, 2009

:Y.A
kau dan aku berjanji menyusur harau hingga lansau
ke batang tabik.
janji-janji yang mengalir
seumpama air ngalau sampai ke hilir
selembut syair-syair yang berkulum di bibir
“jemput aku” bisikmu di sela-sela waktu subuh
subuh-subuh yang menjelma rindu dan candu
yang dulu pernah membawa kita
sebelum tahajud menyuruh singgah berlama-lama
“kita akan segera pulang, sayang”
bersabarlah..
Patenggangan, Mei 2009
• Monday, June 15th, 2009

di sana kau adalah Hawa yang ditinggal Adam
yang tidak pernah mempermasalahkan rusuk, juga asal-usul
“tidak ada yang dicuri” begitu katamu
namun kita benar-benar telah melewati musim
dan waktu yang berkelindan:
hujan-hujan yang menggeram diantara semak yang temaram,
serta serantau kemarau yang menghirau.
tak ada cerita tentang iblis, kala Adam menitip sebentuk tangis (juga risau)
tak ada cerita tentang apel maupun buah khuldi,
tertulis di riwayat kitab para nabi
giliranmu,
tulislah..
“akulah Hawa yang menahan hujan..”
Patenggangan, Mei 2009
• Monday, June 15th, 2009

:bidadari senja
di teluk itu dulu, kita pernah berpagut dengan kenangan, bukan?
menatap kapal-kapal kecil berlampu abu-abu,
burung-burung bersayap getir menyanyi sendu,
dan hamparan pasir yang memberikan tempat untuk ombak beradu
diteluk itu pula, kau ingat, kita pernah berjanji dulu:
“bila senja menjemput malam, kitalah yang mesti meratapi
pahitnya pertukaran abadi yang telah dititipi hati kita sendiri”
Tapi, teluk itu pula sayang, sampai saat ini ia masih disitu
tidak sedikitpun memberi jejak pada cerita-cerita kita yang haru biru
maka, tidakkah kau ingin kita beranjak saja
dan mencoba bercengkerama dengan senja ditempat yang berbeda?
Patenggangan, Mei 2009